Guru Matematika Pandai Berpantun dan Berpuisi

 1.        Pantun Teknologi

 

Gula aren dicampur gula batu

Manis terasa menusuk gigi

Guru abad dua puluh satu

Harus akrab dengan teknologi

 

2.        Pantun entreuprenership

 

Pergi ke laut sendirian

Mancing ikan dapatnya ikan cakalang

Bangunlah jiwa kemandirian

Tuk menyongsong masa depan gemilang

 

3.        Pantun silih asah, silih asih, silih asuh

 

Mawar merah bunganya masih kuncup

Tumbuh subur dekat perigi

Kalau kita punya rizki yang cukup

Janganlah lupa untuk berbagi

 

4.        Pantun idolaku

 

Main musik pake biola

Suaranya merdu menghibur tamu

Nabi Muhammad sang idola

Saya rindu ingin bertemu

 

A.      PUISI

1.        Religi

 

Engkaulah

 

Engkaulah penebar cahaya

Engkaulah penerang dunia

Engkaulah rahmat bagi sekalian alam

Engkaulah teladan kehidupan

 

Engkaulah pemilik akhlak agung

Engkaulah penyampai risalah

Engkaulah penyelamat umat

Engkaulah pendobrak kejahiliyahan

 

Engkaulah Ash-shiddik

Begitu jujurnya engkau

Engkaulan al amanah

Begitu terpercayanya engkau

Engkaulah al fathonah

Begitu  cerdasnya engkau

Engkaulah at tabligh

Penyampaianmu begitu memukau

Menggetarkan jiwa

Merontokkan ego

Merobek asa

Tuk sambut cahaya ilahi

Sarat dengan makna

Penyelamat kehidupan

 

Engkaulah Muhammad rasulku

Engkaulah Muhammad nabiku

Allahumma sholli alaa Muhammad

Wa’ala aalihi wasohbihi ajmain

 

 

2.         Aku dan corona

 

Kapankah Engkau Pergi

 

Engkau datang tanpa diundang

Semua takut

Banyak korban berjatuhan

Mulai dari satuan, puluhan, ratusan, ribuan, puluh ribuan

Bahkan menembus ratusan ribu korban

Seantero jagat menjadi resah, cemas dan gelisah

 

Saat engkau datang

Ekonomi jadi terpuruk

Kesehatan jadi ambruk

Politik jadi semrawut

Pendidikan jadi lumpuh

Ibadah jadi terpinggirkan

 

Saat engkau datang

Semua orang saling curiga

Takut bertemu

Takut berjabat tangan

Semua jaga jarak

Yaa…. Karenamu…..

Kehidupan sosial jadi renggang

 

Saat engkau datang

Sekolah sekolah jadi kosong

Tiada lagi yang ke sekolah tuk belajar, bermain, tawa dan canda

Bangku-bangku berjajar menjadi saksi bisu

 

Kini…

Daring menggantikan tatap muka

Gadget jadi primadona

Kuota jadi kebutuhan pokok

 

Kini …

Kami rindu suasana dulu

Belajar dan  bercengkarama dengan para siswa

Terngiang sorak sorai anak bermain di halaman sekolah

Berlarian, penuh dengan kegembiraan

 

Kapankah engkau pergi

Jangan lagi usik ketenangan kami

Jangan lagi usik keceriaan kami

Jangan lagi usik kebahagiaan kami

 

Kapankah engkau pergi

Kami ingin hidup normal kembali

Tanpa bayangan ketakutan akan dirimu

 

 

3.    Karakter Budaya Bangsa

 

Memudar

 

Kita bangsa yang besar

Kita bangsa yang santun

Kita bangsa yang ramah

Kita bangsa yang rukun

Kita bangsa yang peduli

Kita bangsa yang berakhlak

 

Gotong royong

Kerjasama

Saling bantu

Kerja keras

Senyum melebar

Jujur

Itulah intan mutiara kita ….

 

Begitu lekat dalam diri

Tumbuh kuat, mengakar, mengkarakter

Seakan tak bisa dipisahkan

 

Tapi kini….

Semua itu mulai memudar

Bak memudarnya warna pakaian

Perlahan berubah dari warna asal

Yang menjadi jati diri

 

Semangat gotong royong memudar

Semangat kerjasama memudar

Semangat saling bantu memudar

Semangat kerja keras memudar

Senyum ketulusan mulai memudar

Kejujujuranpun kini mulai  memudar

 

Intan mutiara kita mulai menghilang

Tergerus kerasnya kehidupan

Terseret globalisasi zaman

 

 

4.    Cita, Cinta dan Harapan

 

Secercah Harapan

 

Malam gelap menyelimuti bumi

Mata mata terpejam dalam tidur lelap

Cakrawala berhiaskan taburan bintang

Purnama tersenyum menebar pesona

 

Hewan malam mulai berkeliaran

Sambut kehidupan dengan suka cita

Mencari mangsa tuk menyambung hidup

Sementara orang-orang terlelap dalam buaian mimpi

 

Seberkas cahaya di ufuk mulai tampak

Jingga merona pertanda fajar menyingsing

Kelamnya malam sedikit tersibak

Kokok ayam bersahutan membahana membelah cakrawala

Menyongsong pagi yang cerah secerah insan bertakwa

Dengan kerendahan hati menghadap  ilahi di penghujung malam

Menyongsong pagi dengan ketundukkan pada sang pencipta

 

Selalu ada secercah harapan di esok hari

Yakinlah kegelapan akan berakhir

Walau pelan tapi pasti


Lelap tidur pun akan terbangun

Sebab malam kan berganti siang

Kita songsong kegemilangan

Dengan bantuan dan ridlo Nya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Cinta dan Cita-Cita